August 30, 2025
Prabowo

KSTI 2025: Ajang Politik Inovasi Nasional

Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI 2025) yang digelar di Bandung bukan hanya pertemuan akademisi, melainkan juga ajang politik strategis. Diselenggarakan di kampus ITB, acara ini mempertemukan peneliti, pelaku industri, mahasiswa, hingga pejabat negara untuk membahas arah pembangunan berbasis riset dan teknologi.

Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, hadir sebagai keynote speaker dengan pidato yang banyak dibicarakan. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan mencapai visi Indonesia Emas 2045 tanpa penguasaan sains dan teknologi. Pidato ini bukan sekadar retorika, tetapi juga sinyal politik bahwa pemerintahannya bertekad menjadikan inovasi sebagai tulang punggung pembangunan.

Kehadiran Prabowo di KSTI juga memperlihatkan bahwa politik dan teknologi kini berjalan beriringan. Sains tidak lagi ditempatkan di pinggiran, tetapi menjadi bagian inti dalam pengambilan keputusan politik nasional.


Pesan Politik Prabowo: Teknologi Adalah Kedaulatan

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut teknologi sebagai bentuk baru kedaulatan nasional. Menurutnya, bangsa yang kuat bukan lagi diukur dari jumlah tentara atau kekayaan alam, tetapi dari kemampuan menguasai inovasi.

Ia mencontohkan beberapa negara yang mampu melesat berkat sains dan teknologi:

  • Korea Selatan yang pada 1960-an miskin sumber daya alam, kini menjadi raksasa teknologi dengan Samsung, LG, dan Hyundai.

  • Singapura yang kecil secara geografis, tetapi unggul dalam bioteknologi, keuangan digital, dan e-government.

  • Tiongkok yang menggeser Amerika Serikat dalam produksi manufaktur berteknologi tinggi.

Pesan ini jelas: jika Indonesia ingin sejajar dengan negara maju, maka riset dan teknologi harus ditempatkan sebagai prioritas politik nasional.


Agenda Riset Prioritas Nasional

Prabowo menekankan beberapa sektor yang harus menjadi prioritas riset dan inovasi:

  1. Energi Terbarukan
    Indonesia harus keluar dari ketergantungan batu bara. Investasi di panel surya, energi angin, geothermal, dan biofuel menjadi kunci transisi energi bersih.

  2. Pertahanan dan Keamanan
    Sebagai mantan jenderal, Prabowo menyoroti pentingnya teknologi drone, satelit, AI militer, hingga cyber defense. Teknologi pertahanan dianggap vital untuk menjaga kedaulatan Indonesia.

  3. Kesehatan dan Bioteknologi
    Pandemi COVID-19 memberi pelajaran mahal. Indonesia harus mandiri dalam riset vaksin, obat-obatan, dan peralatan medis. Bioteknologi juga dianggap strategis untuk menghadapi krisis pangan.

  4. Ekonomi Digital
    Dengan 270 juta penduduk, Indonesia punya pasar digital raksasa. Prabowo menekankan pengembangan AI, big data, blockchain, hingga startup digital untuk memperkuat daya saing.

  5. Ketahanan Pangan
    Teknologi pertanian presisi, drone sawah, dan benih tahan iklim menjadi fokus agar Indonesia tidak bergantung pada impor pangan.


Anggaran Riset: Janji Politik yang Krusial

Salah satu poin paling penting dalam pidato Prabowo adalah komitmen meningkatkan anggaran riset dan pengembangan (R&D). Saat ini, Indonesia hanya mengalokasikan sekitar 0,3% dari PDB, jauh di bawah standar global.

Prabowo berjanji menaikkan anggaran menjadi minimal 1% PDB dalam lima tahun. Artinya, lebih dari Rp200 triliun akan dialokasikan untuk riset dan inovasi.

Meski demikian, oposisi mempertanyakan apakah anggaran ini benar-benar akan sampai ke peneliti, atau hanya habis di birokrasi. Banyak kalangan menuntut agar dana riset dikelola lebih transparan, dengan sistem akuntabilitas berbasis digital.


Kolaborasi Triple Helix: Akademisi, Industri, dan Pemerintah

KSTI 2025 juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi triple helix antara akademisi, industri, dan pemerintah.

  • Akademisi menekankan pentingnya kebebasan riset dan dukungan dana.

  • Industri menuntut hasil riset yang aplikatif dan bisa dikomersialisasikan.

  • Pemerintah berperan sebagai fasilitator sekaligus regulator.

Di acara ini, sejumlah MoU ditandatangani:

  • Kerja sama ITB dengan BUMN energi untuk riset panel surya generasi terbaru.

  • Kolaborasi startup AI Indonesia dengan kementerian untuk pengembangan GovTech.

  • Kemitraan internasional dengan Jepang, Korea Selatan, dan Jerman dalam bidang bioteknologi dan manufaktur.

Kolaborasi ini dianggap sebagai langkah nyata untuk menjembatani dunia akademis dengan dunia industri.


Tantangan Politik Teknologi

Meski penuh optimisme, ada banyak tantangan yang dihadapi Indonesia dalam agenda politik teknologi:

  1. Birokrasi Riset – Proses pencairan dana penelitian sering rumit, memakan waktu, dan penuh dokumen administratif.

  2. Brain Drain – Ribuan ilmuwan muda Indonesia lebih memilih berkarier di luar negeri karena fasilitas riset dalam negeri terbatas.

  3. Ketimpangan Infrastruktur – Akses teknologi masih didominasi kota besar, sementara daerah terpencil tertinggal.

  4. Politik Praktis – Ada risiko sains hanya dijadikan jargon politik tanpa implementasi nyata.

Tantangan ini membuat agenda Prabowo tidak mudah. Butuh reformasi birokrasi, insentif riset, dan komitmen jangka panjang lintas pemerintahan.


Perspektif Internasional: Indonesia di Mata Dunia

Pidato Prabowo di KSTI mendapat liputan luas dari media internasional. The Jakarta Post, Nikkei Asia, hingga Reuters menyoroti bahwa Indonesia mulai memposisikan sains sebagai kekuatan politik.

Bank Dunia memuji komitmen meningkatkan anggaran riset, namun mengingatkan risiko “middle income trap” jika riset tidak menghasilkan inovasi nyata.

Sementara itu, negara-negara mitra seperti Jepang dan Korea Selatan menyatakan kesiapan mendukung Indonesia melalui transfer teknologi dan program beasiswa riset.


Sains sebagai Instrumen Politik Kekuasaan

Prabowo juga sadar bahwa sains bisa menjadi instrumen politik kekuasaan. Dengan menguasai narasi teknologi, pemerintah bisa memperkuat legitimasi di mata rakyat.

Jika pembangunan berbasis sains berhasil, Prabowo bisa dikenang sebagai presiden yang membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berkembang. Namun jika gagal, kritik bahwa sains hanya dijadikan jargon politik bisa merusak citra pemerintahannya.


Kesimpulan: Sains dan Teknologi sebagai Jalan Indonesia Emas

KSTI 2025 memperlihatkan pergeseran besar dalam politik Indonesia: sains dan teknologi kini diposisikan sebagai inti pembangunan nasional.

Prabowo menekankan bahwa tanpa inovasi, Indonesia tidak akan mampu bersaing di era global. Dengan komitmen meningkatkan anggaran riset, mendorong kolaborasi triple helix, serta memperkuat posisi di panggung internasional, Indonesia punya peluang besar menuju Indonesia Emas 2045.

Namun, jalan menuju sana penuh tantangan: birokrasi, brain drain, dan kesenjangan akses masih menjadi masalah besar. Oleh karena itu, politik teknologi harus diikuti implementasi nyata yang berpihak pada masyarakat.

Prabowo sains teknologi 2025 bukan sekadar pidato di KSTI, tetapi bisa menjadi tonggak sejarah baru jika benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang konsisten.


Referensi