August 30, 2025
KTT

KTT ASEAN 2025: Panggung Strategis Asia Tenggara

Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN) kembali akan menggelar KTT ASEAN 2025 yang rencananya berlangsung di Bangkok, Thailand. Pertemuan tahunan ini menjadi ajang penting bagi para pemimpin Asia Tenggara untuk membahas isu-isu strategis yang menyangkut politik, keamanan, ekonomi, hingga perubahan iklim.

KTT ASEAN 2025 diharapkan menjadi titik balik penting, terutama karena kawasan Asia Tenggara kini menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, krisis Myanmar, ketegangan di Laut China Selatan, serta isu perubahan iklim menjadi topik utama yang akan mendominasi pembahasan.

Bagi Indonesia, sebagai salah satu pendiri dan kekuatan utama ASEAN, peran dalam KTT ini akan sangat menentukan arah kebijakan regional. Dengan pengalaman sebagai tuan rumah G20 pada 2022 dan kiprah diplomasi aktif di PBB, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat.


Tantangan Utama ASEAN Menjelang 2025

1. Krisis Myanmar yang Berlarut-larut

Sejak kudeta militer pada 2021, Myanmar menjadi masalah terbesar dalam tubuh ASEAN. Kekerasan terhadap sipil, konflik bersenjata, dan stagnasi dialog politik membuat ASEAN terpecah.

KTT 2025 akan menjadi ujian apakah ASEAN bisa menemukan solusi bersama. Sebagian negara mendukung pendekatan diplomasi lunak, sementara yang lain menginginkan sanksi lebih keras terhadap junta militer. Perpecahan ini bisa mengganggu kesatuan ASEAN sebagai organisasi regional.


2. Ketegangan Laut China Selatan

Laut China Selatan tetap menjadi sumber konflik antara beberapa anggota ASEAN (Vietnam, Filipina, Malaysia) dengan Tiongkok. Isu klaim wilayah, eksplorasi sumber daya, dan keamanan maritim menjadi semakin rumit karena meningkatnya kehadiran militer asing.

ASEAN dihadapkan pada dilema: menjaga hubungan baik dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama, atau bersikap lebih tegas dalam membela kedaulatan anggotanya. KTT 2025 diprediksi akan menghasilkan deklarasi baru terkait kebebasan navigasi dan penyelesaian sengketa maritim.


3. Persaingan AS–Tiongkok di Asia Tenggara

Persaingan geopolitik global antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga sangat memengaruhi ASEAN. Kedua kekuatan besar ini berlomba memperluas pengaruh melalui investasi, bantuan infrastruktur, serta kerjasama militer.

ASEAN dituntut menjaga keseimbangan agar tidak terseret ke dalam blok tertentu. Netralitas dan prinsip centrality ASEAN akan menjadi ujian besar di KTT 2025.


4. Perubahan Iklim dan Transisi Energi

Asia Tenggara adalah salah satu kawasan yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, mulai dari banjir, kenaikan permukaan laut, hingga bencana alam ekstrem.

KTT ASEAN 2025 diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kerjasama transisi energi hijau, pembangunan berkelanjutan, dan pendanaan iklim. Negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam berpotensi memimpin inisiatif energi terbarukan.


Peran Strategis Indonesia

Indonesia dipandang sebagai motor utama ASEAN. Ada beberapa alasan mengapa peran Indonesia di KTT 2025 sangat penting:

  1. Diplomasi Aktif – Indonesia dikenal piawai memainkan diplomasi inklusif, baik dengan Barat maupun Tiongkok.

  2. Ekonomi Terbesar di ASEAN – Dengan GDP terbesar, Indonesia menjadi pusat gravitasi ekonomi kawasan.

  3. Kredibilitas Internasional – Pengalaman sukses menjadi tuan rumah G20 dan kepemimpinan di forum multilateral meningkatkan reputasi Indonesia.

  4. Kepemimpinan Politik – Pemerintah Indonesia didorong untuk menginisiasi dialog lebih kuat terkait Myanmar dan Laut China Selatan.

Bagi Indonesia, KTT ini juga kesempatan untuk memperkuat posisi sebagai “natural leader” ASEAN yang mampu menjembatani perbedaan antaranggota.


Harapan KTT ASEAN 2025

Dari berbagai isu, ada sejumlah harapan besar terhadap hasil KTT ASEAN 2025:

  • Deklarasi Bersama Myanmar: Rencana konkret untuk mengakhiri krisis politik dan melindungi warga sipil.

  • Kode Etik Laut China Selatan: Kemajuan nyata dalam negosiasi Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan Tiongkok.

  • Kesepakatan Energi Hijau: Komitmen bersama mempercepat transisi ke energi terbarukan.

  • Penguatan Ekonomi Digital: Kerjasama di bidang e-commerce, keamanan siber, dan regulasi teknologi.

  • Peningkatan Kerjasama Kemanusiaan: Respons kolektif ASEAN terhadap bencana alam dan krisis iklim.


Kritik dan Tantangan Internal ASEAN

Meski banyak harapan, ASEAN tetap menghadapi tantangan internal:

  • Perbedaan Kepentingan Anggota: Negara maritim seperti Filipina dan Vietnam cenderung keras terhadap Tiongkok, sementara Kamboja dan Laos lebih condong mendukung Beijing.

  • Efektivitas Konsensus: Mekanisme pengambilan keputusan berdasarkan konsensus sering membuat keputusan lambat.

  • Kurangnya Penegakan: Banyak deklarasi sebelumnya tidak diikuti dengan aksi nyata.

Jika ASEAN gagal menunjukkan langkah konkret di KTT 2025, kepercayaan internasional terhadap organisasi ini bisa melemah.


Kesimpulan

KTT ASEAN 2025 menjadi momentum krusial bagi Asia Tenggara. Di tengah rivalitas global, krisis Myanmar, dan tantangan perubahan iklim, ASEAN dituntut bersatu dan relevan.

Indonesia, sebagai kekuatan terbesar di kawasan, memegang peran penting untuk memastikan hasil pertemuan tidak hanya berupa deklarasi, tetapi juga implementasi nyata.

Keberhasilan KTT ini akan menentukan apakah ASEAN mampu menjaga centrality sebagai organisasi regional yang kuat, atau hanya menjadi forum diplomasi tanpa dampak signifikan.


Referensi: